Undang Undang Kekayaan Intektual sebagai Hasil Berkarya

Undang Undang Kekayaan Intektual sebagai hasil berkarya. Kekayaan intelektual pasti dimiliki oleh setiap manusia. Selama manusia itu hidup, bernapas, dan mampu berpikir untuk menggugah ide, gagasan, atau kreativitas tertentu. Dapat dipastikan buah karya intelektualnya akan selalu ada. Namun, tidak semua hasil intelektual manusia tersebut dapat dinikmati oleh orang banyak. Hal itu dikarenakan, sang penciptanya tidak mau menyebarluaskan hingga bisa dinikmati oleh masyarakat luas.

Undang Undang Kekayaan Intektual sebagai Hasil Berkarya

Tidak ada masalah jika memang seperti itu. Biasanya, hasil intelektual yang dikomersilkan baru dapat dinikmati oleh orang banyak. Sebagai contoh, sebuah lagu yang diciptakan oleh seorang komposer. Lagu itu akhirnya dijual kepada penyanyi yang cukup mempunyai nama terkenal. Hasil dari penjualan lagu tersebut masuk ke kantong sang komposer atau penciptanya. Sementara itu, lagu yang dinyanyikan oleh sang penyanyi menjadi semakin terkenal dan dapat dinikmati oleh masyarakat luas. Penyayi itupun mendapatkan keuntungan yang tidak sedikit dalam penjualan RBT (ringback tone). Masing-masing diuntungkan sesuai perannya masing-masing.

Idealisme dalam berkarya
Dalam membuat atau menciptakan karya seni dalam bentuk apapun, tidak sedikit orang yang masih memegang teguh idealismenya. Dengan begitu, karya-karyanya memang sesuai dengan apa yang dia inginkan selama ini, dan tidak menuruti orang lain. Hal seperti ini memang kurang laku di pasaran yang sudah dikuasai oleh industrialisasi. Berbeda dengan seseorang yang sejak pertama memang sudah menceburkan dirinya beserta hasil karyanya untuk kepentingan industrialisasi.

Undang Undang Kekayaan Intektual

Selama dia masih terus berkarya dan dapat diterima pasar, maka keuntungan yang didapatkan juga akan mengalir terus. Namun, industrialisasi hanya melahirkan karya-karya yang terkesan picisan atau kecil dengan hanya memandang dari segi keuntungannya saja. Berbeda dengan konsep idealisme yang sejak awal bertujuan tertentu agar konsumen yang menikmatinya juga mengetahui. Dua sisi dalam berkarya itu masing-masing ada penggemarnya masing-masing.

Sebagai contoh, industri musik Indonesia yang masih didominasi oleh lagu-lagu bertema cinta yang terkesan cengeng dan mendayu-dayu. Lagu seperti itu memang sangat disukai olah kawula muda saat ini. Oleh karena itu cukup banyak peminatnya. Seorang komposer, penyanyi, atau group band tidak mempedulikan masalah tema lagunya, yang penting banyak yang menyukainya dan keuntungan yang didapat juga besar. Itulah kekayaan intelektual yang berbasis pada industrialisasi.

Sementara mereka yang lebih mengandalkan idealiasme, membuat dan membawakan lagu dengan tema anti kemapanan, sosial, dan lain sebagainya. Isinya lebih menyuarakan hati nurani masing-masing dan menggambarkan realita yang sebenarnya di lapangan. Beberapa orang sudah melakukan hal semacam itu, yaitu menciptakan sesuatu tetapi sebagian hasil penjualannya untuk disumbangkan bagi kepentingan sosial. Biasanya, dilakukan jika dalam moment tertentu, misalnya ada bencana alam.

Sebagai contoh, bencana alam tanah longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah beberapa waktu lalu telah menggugah beberapa orang untuk beramal. Ada cukup banyak cara untuk dilakukan. Misalnya, menciptakan lagu atau benda seni tertentu yang dijual untuk membantu korban bencana alam. Itulah beramal dengan hasil kekayaan intelektual.

    Chat WA