021 2217 2410 0853 5122 5081
08.00 – 16.30 WIB cs@patendo.com

Masalah Sengketa Merek Jack Wolfskin

Sengketa merek Jack Wolfskin, ramai dibicarakan pada tahun 2015. Siapa yang tidak mengenal merek pakaian outdoor ini terlebih di kalangan pendaki gunung dan pencinta kegiatan luar ruangan.

Bahkan saat ini harga pakaian dan aksesorisnya bisa mencapai ratusan ribu rupiah per item. Maka dari itu banyak merek lokal yang berusaha menirunya dan berjualan dalam skala kecil.

Sengketa merek sudah berkali-kali terjadi di Indonesia. Ini terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat, lemahnya pengawasan dan penegakan hukum di Indonesia. Bukan hanya di merek dagang, bahkan di bidang musik, desain, dan karya-karya yang lainnya juga marak terjadi masalah seperti ini.

Pengertian brand dilution

Kronologis Sengketa Merek Jack Wolfskin
Cerita awalnya bersumber dari seorang pengusaha asal Bandung yang bernama Alexander Wisata. Pada tahun 2002 ia mendaftarkan merek dengan nama Jack Wolfskin ke Ditjen HKI.

Pada tahun 2011 ia juga memperpanjang masa berlaku merek tersebut. Adapun merek Jack Wolfskin telah terdaftar dengan nomor IDM000018078 di kelas 18 dan 25. Sedangkan merek cat mount dan logo tapak kaki didaftarkan dengan nomor IDM000236804 di kelas 18.

Perusahaan Jack Wolfskin Autrustung Fur Draussen asal Jerman juga mendaftarkan merek dagang perusahaannya di Indonesia pada tahun 2007. Mereka mendaftarkan merek ini untuk kelas 18, 22, dan 25.

Kelas 18 merupakan varian produk tas backpack ataupun daypack outdoor sedangkan kelas 25 untuk jenis pakaian outdoor seperti jaket, celana panjang, footwear, dan lain sebagainya.

Semua orang yang hobi dengan kegiatan luar ruangan seperti berkemah, mendaki gunung, jalan-jalan di alam akan mengetahui beberapa merek produk outdoor gear dari berbagai negara.

Salah satunya adalah Jack Wolfskin, perusahaan asal Jerman yang terkenal dengan logo tapak kucingnya. Brand ini telah berdiri mulai tahun 1981 dan membuka gerai besar pertama di Heidelberg di tahun 1993.

merek

Dengan sejarah perjalanan panjang, mereka juga pernah menjadi sponsor Bundesliga (Liga Sepak Bola Jerman). Mereka juga telah terlebih dahulu didaftarkan di negaranya dan mendunia menjadi salah satu merek pakaian outdoor yang dicari. Saat ini Jack Wolfskin telah menjadi bisnis waralaba besar yang merambah seluruh dunia dengan jumlah toko sekitar 540 unit di Eropa dan Asia.

Pemerintah dalam ini Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia telah mencatat 2 merek yang sama dalam satu waktu.

Akan tetapi sengketa merek ini pasti terjadi jika Jack Wolfskin asal Jerman memasarkan produknya ke Indonesia. Mereka beranggapan bahwa Alexander Wisata telah mencatut nama dan merek mereka tanpa melalui prosedur yang jelas.

Saat ini pihak Alexander Wisata memang telah kalah dalam persidangan dan hakim menyatakan bahwa merek Jack Wolfskin merupakan resmi milik perusahaan asal Jerman.

Menurut pihak pengacara pengusaha asal Bandung tersebut, perusahaan kliennya merupakan usaha kecil dan tidak terkenal meski menggunakan merek tersebut. Ia juga membantah bahwa kliennya meniru merek tersebut.

Kalah di Persidangan
Pendaftaran merek di Ditjen HKI memiliki beberapa kriteria mendasar. Apabila si pendaftar tidak memiliki itikad baik, bertentangan dengan undang-undang yang berlaku, tidak ada pembeda dengan produk-produk sejenis, dan telah menjadi milik umum, maka permohonan pendaftaran merek akan ditolak.

Dari tahun ke tahun jumlah pendaftaran merek selalu mengalami fluktuasi jumlah kenaikan dan penurunannya. Akan tetapi ada satu tren yang selalu meningkat yaitu gugatan terhadap merek tertentu.

Ini artinya, setiap tahun jumlah gugatan merek di Indonesia semakin banyak karena semakin berkembangnya teknologi dan transaksi di dunia maya membuat semua logo atau brand tertentu mudah dibuat duplikasinya.

Maka dari itu akan dibahas mengenai hal-hal yang menyebabkan merek Jack Wolfskin asal Bandung dapat menjadi sengketa dan dibawa ke ranah hukum. Beberapa alasan tersebut diantaranya:

1. Mempunyai persamaan dengan merek yang sudah terkenal.
Merek Jack Wolfskin asal Bandung dinilai memiliki kesamaan dengan merek asal Jerman. Kesamaan tersebut berupa cara penetapan, cara penulisan, bentuk logo, dan juga cara pengucapannya menghasilkan bunyi yang sama dengan perusahaan asal Jerman.

Penggunaan bentuk logo tapak kaki (cat mount) juga sama persis sehingga dinilai melakukan duplikasi produk.

Hal ini saja sudah sangat memberatkan pihak Alexander Wisata dalam penggunaan merek dagang tersebut. Apabila Anda ingin membuat suatu merek, pastikan merek tersebut asli dan orisinil tidak meniru pihak manapun.

Lakukanlah riset mendalam terlebih dahulu sebelum membuat merek dagang tertentu agar tidak menjadi masalah di kemudian hari.

Jika ingin menggunakan merek dagang milik orang lain, pastikan Anda menghubunginya terlebih dahulu. Jika mereka memiliki usaha dalam bentuk franchise (waralaba) akan lebih baik karena merek mereka dapat dipergunakan oleh orang lain dengan persetujuan dan imbalan tertentu yang disepakati oleh kedua belah pihak.

2. Memiliki persamaan dengan merek lain yang sudah terdaftar lebih dulu.
Merek Jack Wolfskin asal Jerman telah terdaftar terlebih dahulu di negaranya pada tahun 1993. Selain itu mereka juga telah merambah membuka cabang ke berbagai negara seperti Inggris, Turki, China, Hongkong, dan beberapa negara lainnya.

Maka dari itu merek asal Jerman tersebut adalah merek yang pertama ada di dunia.
Selain itu pihak Jack Wolfskin asal Bandung dianggap tidak memiliki itikad baik dengan mengambil keuntungan dan membonceng merek yang sudah terkenal terlebih dahulu. Maka dari itulah hakim memutuskan bahwa perusahaan ini bersalah.

3. Menyerupai nama usaha, logo, produk yang dimiliki orang lain tanpa persetujuan.
Nama usaha Jack Wolfskin, penggunaan logo tapak kaki kucing gunung, juga semua produk bertema outdoor telah di duplikasi tanpa persetujuan pemilik produk.

Semua warna, bentuk, ucapan, bahkan penggunaannya pada tas, jaket, dan barang lainnya memiliki kesamaan tempat tanpa ada pembedanya.

Maka dari itulah diputuskan bahwa barang yang dijual tersebut serupa dan menduplikasi hak atas kekayaan intelektual milik seseorang.

Pada intinya perlindungan HAKI tersebut bukan hanya untuk keuntungan semata. Tetapi bagaimana melindungi dan memproteksi hasil buah pikiran seseorang sehingga penggunaan oleh pihak lain pun harus sesuai dengan prosedur yang berlaku.

4. Mempunyai persamaan indikasi geografis yang sudah dikenal.
Persamaan indikasi geografis maksudnya adalah untuk menunjukkan suatu tanda asal geografis dari barang tersebut. Kombinasi faktor geografis ini dapat berupa faktor alam dan faktor manusia.

Kesukaan masyarakat Eropa akan menjelajah alam seperti gunung, hutan, dan sungai membuat mereka menciptakan pakaian yang dapat nyaman digunakan saat mereka bepergian.

Selain itu logo tapak kucing gunung juga merupakan hewan endemik yang ada di wilayah subtropis sehingga logo mereka terinspirasi dari alam lingkungan sekitar mereka. Sehingga sudah jelas bahwa merek tersebut merupakan milik dari perusahaan Jerman sesuai dengan kondisi alam lingkungan juga manusianya.

Penting untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan akan hak atas kekayaan intelektual kepada para pengusaha di Indonesia. Tentu ke depannya tidak diharapkan terjadi lagi masalah seperti sengketa merek Jack Wolfskin.