021 2217 2410 0853 5122 5081
08.00 – 16.30 WIB cs@patendo.com

Kasus Merek Donald Trump Vs Pengusaha Retail Indonesia

Kasus merek Donald Trump vs pengusaha retail Indonesia pernah terjadi sebelumnya. Pengusaha sekaligus mantan Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump pernah menggugat pengusaha Indonesia bernama Robin Wibowo pada tahun 2013. Trump menuding Robin menggunakan merk Trumps, yang mirip namanya, untuk usaha retail.

Pebisnis tenar yang namanya sering muncul menghiasi media-media internasional ini keberatan dengan tindakan Robin yang dianggap mencatut bagian namanya. Robin menggunakan TRUMPS sebagai mereknya.

Merek TRUMPS milik Robin telah terdaftar di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual sejak 17 Juni 2010 untuk kelas 35. Di antaranya adalah melindungi jasa agen penempatan tenaga kerja, pelelangan, pengiklanan, dan penyedia jasa untuk iklan.

Kontroversi besar yang pernah menyerang dunia Hak Cipta Indonesia ini menjadi sorotan dari berbagai sudut pandang. Banyak yang menganggap hal ini adalah hal yang biasa, banyak pula yang menganggap Robin telah melakukan tindak plagiasi yang besar.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Kasus Merek Donald Trump Vs Pengusaha Retail Indonesia
Pada tahun 2013, seperti yang tercantum dalam berkas gugatan di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, Trump menunjuk kuasa hukumnya dari Int Tra Patent Bureau untuk menyampaikan keberatannya pada merk Trumps yang didaftarkan Robin ke Ditjen Hak Kekayaan Intelektual pada 17 Juni 2010 lalu.

Gugatan itu diberikan lantaran Robin dianggap memplagiat nama merek Trumps. Padahal, pihak Trump sendiri mengklaim bahwa nama merek Trumps telah digunakan sejak dari awal perusahaan berdiri.

Merek Trump sendiri sudah terdaftar di Amerika sejak April 1999 untuk melindungi barang di kelas internasional nomor 43. Selain di Amerika, merek Trump juga sudah secara legal terdaftar di Kanada, Australia, Jepang, Selandia Baru, Rusia, Thailand, dan Ukraina.

Termasuk Indonesia dimana merek Trump milik Donald Trump terdaftar dengan No. IDM000275364 sejak Oktober 2010 dan No. IDM000355706 sejak Mei 2012 di kelas 43.

Sementara itu, merek Trumps milik Robin Wibowo telah terdaftar sejak Juni 2010 dengan No. IDM000252416 untuk jasa yang termasuk dalam kelas 35. Yang termasuk di kelas 35 adalah toko bahan bangunan, toko serba ada (TOSERBA), jasa penyediaan dan penjualan barang material, pusat perbelanjaan, dan jasa periklanan.

Setelah mengetahui ada yang menggunakan namanya sebagai merek, Trump pun dengan cepat mengambil langkah hukum. Ia mendaftarkan gugatannya tersebut ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada 12 November 2013. Trump pun menilai kalau Robin sudah melanggar Pasal 6 ayat 3, dari huruf a UU No. 15 / 2002 mengenai Merek.

Trump juga mengklaim ‘ketenaran’ namanya telah diakui oleh Ditjen HKI sendiri. Buktinya, Ditjen HKI pernah mengeluarkan Surat Pemberitahuan Penilaian Keberatan Merek No HKI.4HI.06.01.PO tanggal 28 Juni 2013. Surat ini merupakan respon dari keberatan yang diajukan Donald Trump terhadap permohonan pendaftaran merek D TRUMP yang diajukan oleh pemohon merek lainnya.

Isi Gugatan

Dalam gugatannya, Trump memperkenalkan diri sebagai salah satu pengusaha yang terkenal dalam skala internasional asal Amerika Serikat. Namanya telah digunakan organisasi yang didirikan olehnya yakni Trump Organization.

Oleh karena itu, Trump pun mendaftarkan sejumlah merek miliknya termasuk yang menggunakan namanya ke sejumlah negara besar. Di US sendiri, merek Trump ini sudah terdaftar juga diproteksi hukum setempat, mulai tanggal 20 April 1999. Sementara di Kanada, merek Trump terdaftar menjadi Hak Cipta setempat sejak 26 Juli 1932.

Selain kedua negara itu, merek-merek milik Trump juga telah dilindungi hukum di berbagai negara lain. Sebutlah Australia, Jepang, Rusia, Ukraina, Thailand, Selandia Baru, dan lainnya. Untuk Indonesia sendiri, merek Trump terdaftar sejak 14 Oktober 2010 dan untuk merek Donald Trump terdaftar sejak 4 Mei 2012.

Dalam gugatannya, Trump menilai merk Trumps milik Robin menyerupai namanya yang sudah dikenal dunia internasional sebagai pengusaha real estate, kasino hingga pertelevisian. Sehingga Trump berharap majelis hakim membatalkan merk Trumps milik Robin.

Tanggapan Pengadilan

Dalam berkas jawaban atas gugatan ini, Ditjen HKI Kemenhum menilai gugatan Trump berlebihan. Menurutnya, merk Trumps milik Robin sudah sesuai ketentuan yang berlaku sehingga kemiripan dengan Trump milik Donald Trump terlalu berlebihan. Walaupun begitu, proses hukum tetap berjalan.

Persidangan sengketa yang melibatkan orang asing tersebut tidak berlangsung lama. Yakni dari tanggal 19 November 2013 dan berakhir dengan putusan pada 6 Februari 2014.

Sayangnya, hingga persidangan sudah sampai ke tahap jawaban, Robin sama sekali tidak pernah menampakkan batang hidungnya di muka persidangan. Karenanya, pengadilan pun memutuskan untuk memanggil Robin melalui media massa.

Hasil Akhir

Dalam sengketa ini, Donald Trump lah yang keluar sebagai pemenang. Dalam putusannya, Hakim Ketua, Rochmat, memilih untuk mengabulkan gugatan Trump sepenuhnya walaupun tanpa kehadiran Robin.

Keputusan yang terjadi secara verstek ini (hakim memutus perkara tanpa ada kehadiran pihak tergugat) membuat merek TRUMPS milik Robin dibatalkan HAKI-nya. Akibat dari kontroversi ini pun banyak pihak yang meminta pemilik usaha untuk senantiasa berhati-hati dalam memilih nama.

Pentingnya Pengetahuan Hak Cipta

Kasus besar yang pernah menimpa salah satu pengusaha Indonesia ini merupakan kasus yang banyak mengandung nilai. Tidak hanya berupa pengetahuan tentang Hak Cipta, namun juga berbicara tentang moralitas dalam berbisnis.

Banyak yang masih menganggap bahwa nama merek hanya sekadar nama. Padahal, nama pun merupakan hasil pemikiran panjang yang rumit. Walau mungkin nama sebuah merek terkesan simpel, namun tetap memiliki makna tersendiri.

Oleh karena itu, ada badan tersendiri yang mengatur tentang kepentingan itu, yakni HAKI atau Hak Kekayaan Intelektual. Melalui badan ini, seseorang bisa mendaftarkan berbagai macam ciptaannya agar dilindungi secara sah oleh hukum. Sehingga, jika diplagiat, orang tersebut bisa menuntutnya secara hukum.

Pengetahuan inilah yang masih menjadi masalah bagi orang awam. Banyak yang masih tidak mengerti tentang hal ini, menyebabkan banyak sekali kasus plagiasi terjadi. Termasuk plagiasi nama merek.

Jadi, sudah sangat benar untuk mencari tentang merek yang telah didaftarkan agar tidak tersandung masalah hak cipta.

Kesimpulan

Bukan hanya sekali dua kali kasus plagiasi terjadi di Indonesia. Salah satu kasus terbesar yang terjadi adalah kasus merek Donald Trump vs pengusaha retail Indonesia yang terjadi pada tahun 2013 silam.

Kasus yang melibatkan antara pengusaha sekaligus mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan pengusaha Indonesia, Robin Wibowo, ini menjadi perhatian selama beberapa saat. Trump yang merasa namanya digunakan untuk bisnis milik Robin menuntut pada Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

Hal ini pun berbuntut pendek karena putusan yang diberikan tidak terlalu lama dan memenangkan Donald Trump. Jadi, Robin pun tidak dapat menggunakan nama TRUMPS untuk nama bisnisnya.

Kasus ini menjadi sebuah pelajaran dimana seseorang harus paham mengenai hak cipta sebelum membuatnya.