021 2217 2410 0853 5122 5081
08.00 – 16.30 WIB cs@patendo.com

Kasus Merek Cap Kaki Tiga

Anda yang pernah minum minuman Larutan Cap Kaki Tiga mungkin belum semuanya tahu mengenai kasus merek Cap Kaki Tiga. Sebagai orang Indonesia anda perlu tahu tentang kasus yang terjadi seputar produk dalam negeri.

Jangan khawatir karena dalam artikel ini kami mengulas tentang hal tersebut.
Larutan Cap Kaki Tiga merupakan larutan penyegar yang mengandung Gypsum fibrosum dan Calcitum yang berguna untuk mencegah dan mengobati panas dalam.

Sementara panas dalam merupakan keadaan yang seringkali dialami oleh kita di Indonesia. Banyak dari kalian pastinya sudah tidak asing lagi dengan merek ini.

Berikut adalah ulasan mengenai kasus terkait merek Cap Kaki Tiga. Selamat membaca!

Kasus Merek Cap Kaki Tiga di Indonesia

Kasus terjadi di Indonesia dimulai pada tahun 1978, dimana merek Cap Kaki Tiga dari Wen Ken Drug Co (Pte) Ltd di Singapura dapat digunakan oleh PT.Sinde Budi Sentosa yang telah mendapatkan izin untuk hal tersebut. Perjanjian lisensi berasal dari kesepakatan para pihak.

Sejak 1978, kesepakatan diam-diam antara kedua perusahaan tersebut telah mereka buat bersama. Faktanya adalah Wen Ken memberikan lisensi merek Cap Kaki Tiga kepada PT Sinde Budi untuk memproduksi dan memasarkan produk Cap Kaki Tiga di Indonesia.

Cap Kaki Tiga merupakan suatu merek dagang dari minuman kesehatan berupa larutan penyegar yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 1980-an. Larutan menyegarkan yang diproduksi oleh PT. Sinde Budi Sentosa telah muncul sebagai pelopor obat panas di pasar Indonesia.

Selama beberapa dekade, larutan menyegarkan yang dikenal dengan simbol khas ini telah mampu tumbuh dan berkembang menjadi produk unggulan PT. Budi Sentosa.

Setelah perjanjian kerja sama mengalami perubahan

Perjanjian kerja sama yang telah berjalan sejak tahun 1978 telah mengalami perubahan yang menurut PT. Sinde Budi Sentosa, hal tersebut telah memberikan persyaratan yang sangat memberatkan dari segi hukum. demikian lah sehingga manajemen PT. Sinde Budi Sentosa memilih untuk mengganti merek logo dari Cap Kaki Tiga menjadi Cap Badak.

Sesuai dengan asas-asas yang dianut dalam Undang-Undang Merek Dagang Indonesia yaitu asas yang datang lebih dulu, bukan yang pertama datang, bukan yang pertama keluar, maka pemilik merek baru akan diakui memiliki merek tersebut jika merek tersebut didaftarkan.

Berdasarkan prinsip tersebut, seseorang yang ingin memiliki hak atas suatu merek harus mendaftarkan merek yang bersangkutan. Namun demikian, Pasal 5 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 menyatakan bahwa suatu merek tidak dapat didaftarkan jika merek tersebut tidak memiliki daya pembeda.

Jika dilihat lebih jauh, kemasan Larutan Cap Badak memiliki banyak kemiripan dengan kemasan Cap Kaki Tiga yang merupakan merek dagang dari Wen Ken Drug Co (Pte) Ltd. Dalam hal ini PT. Sinde Budi Sentosa dilarang mendaftarkan nama merk produk yang dimilikinya karena memiliki kemiripan atau kemiripan dengan kemasan Larutan Cap Kaki Tiga.

Persamaan yang terdapat pada kedua produk tersebut antara lain:

1. Bentuk botol;
2. Tutup botol biru;
3. Warna kemasan;
4. Tulisan Arab;
5. Menulis font;
6. Bagaimana menempatkan khasiat produk;
7. Bagaimana menempatkan tulisan komposisi;
8. Bagaimana menempatkan citra varian rasa;
9. Bagaimana menempatkan logo dan kata-kata “solusi menyegarkan” di tengah;

Dalam hal ini, secara tidak langsung PT. Sinde Budi Sentosa mengusung unsur merek yang menyerupai unsur-unsur yang ada pada produk Cap Kaki Tiga. Namun pengajuan merek dagang ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual oleh PT. Sinde Budi Sentosa berhasil lolos pada tahun 2004 dengan brand larutan penyegar Cap Badak kelas 32 (minuman menyegarkan) dan 05 (minuman kesehatan), masing-masing terdaftar dengan IDM000241894 dan IDM000152059.

Pada tahun 2004 Wen Ken Drug Co (Pte) Ltd, belum mendaftarkan Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga pada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual sehingga PT. Sinde Budi Sentosa pun mendapatkan merek dagang dari Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual.

Demikian lah sehingga Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga tidak terdaftar secara resmi di Direktorat Jenderal HAKI di Indonesia. Wen Ken Drug CO (Pte) Ltd, baru-baru ini mendaftarkan merek Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual pada tahun 2008.

Wen Ken Drug Co (Pte) Ltdm di Singapura mengakhiri perjanjian dengan PT. Sinde Budi Sentosa secara sepihak dan mengalihkan izin penggunaan merek Cap Kaki Tiga kepada PT. Kinocaro Era Kosmotindo pada tahun 2008. Pengalihan izin ini sebagian disebabkan oleh PT. Sinde Budi Sentosa Sinde keberatan membayar royalti 5-10 persen per tahun, keengganan menyerahkan izin, dan cek produksi.

Di tahun yang sama, PT. Sinde Budi Sentosa mengajukan gugatan terhadap Wen Ken Drug Co (Pte) Ltd. Gugatan tersebut di tayangkan karena Wen Ken Drug Co (Pte) Ltd telah secara sepihak mengakhiri perjanjian lisensi mulai tanggal 7 Februari 2008 dan bermaksud untuk mengalihkan merek lisensi Cap Kaki Tiga. Di sisi lain, PT Sinde Budi menilai pemutusan hubungan kerja itu ilegal.

Sengketa merek dagang antara PT. Sinde Budi Sentosa dan Wen Ken Drug Co (Pte) Ltd berakhir di Pengadilan Perdata Jakarta. Pengadilan memenangkan penggugat. PT Sinde Budi Sentosa, Majelis menilai minuman Cap Kaki Tiga memiliki kesamaan intinya dengan merek penggugat, PT Sinde Budi Sentosa.

Undang-Undang Merek di Indonesia

Sekilas Tentang Undang-Undang Merek di Indonesia

Berdasarkan pendaftaran No.IDM000241894 oleh Wen Ken Drug, Majelis Perwakilan kemudian menilai bahwa hal tersebut dilakukan dengan itikad tidak baik. Karena dapat menyesatkan konsumen yang menganggap produk tergugat berasal dari penggugat.

Merek yang sama pada pokoknya dengan merek yang terdaftar milik pihak lain ialah merek yang digunakan dengan merek yang terdaftar sebagai milik orang lain tersebut ada kemiripan karena adanya unsur-unsur yang menonjol antara merek yang digunakan dengan merek yang terdaftar sebagai milik orang lain.

Menurut Pasal 6 Ayat (1) huruf Undang-Undang Merek, maka keadaan tersebut memang dapat menimbulkan kesan bahwa ada persamaan yang terdapat dalam kedua kelompok tersebut, baik dari segi bentuk, cara penempatan maupun penulisan, persamaan bunyi ucapan, ataupun kombinasi antar unsur-unsur yang ada.

Adanya kesan mengenai sebuah barang yang sama dengan merek yang seolah-olah merupakan merek yang sah dapat menimbulkan kerugian secara ekonomi bagi si pemilik merek yang terdaftar untuk barang yang dilekati merek tersebut.

Kasus lainnya terkait merek Cap Kaki Tiga

Ada juga kasus terkait merek Cap Kaki Tiga yang datang dari UK. Pemerintah telah mencabut nama merek Larutan Cap Kaki Tiga berdasarkan hukum Inggris. Ini karena logo merek Larutan Cap Kaki Tiga menyerupai bendera triskelion Isle of Man.

The Isle of Man atau Mann adalah sebuah pemerintahan mandiri yang terletak di Samudera Irlandia, yang wilayahnya masih menjadi tanggung jawab Inggris. Oleh karena itu, berdasarkan hukum yang berlaku di Inggris Raya, logo yang digunakan dilarang untuk digunakan kembali.

Itulah kasus merek Cap Kaki Tiga yang perlu anda ketahui. Semoga artikel ini bermanfaat, menambah wawasan anda dengan pengetahuan baru terkait kasus Larutan Cap Kaki Tiga.